Halo.
Aku berbicara padamu. Ya, kamu.
Dan kalian yang sedang mencintai seseorang.

Menjalani hubungan yang cukup lama tidak mudah ya? Beberapa hal buruk tentangnya mulai tampak. Selalu membuat kesal dan menjadi bahan perdebatan. Ingin membuatnya sedikit berubah jadi lebih baik, tapi selalu berujung pada diam dengan kalimat penutup, “gue emang gini. Kalo mau nerima ya silakan, kalo ngga mending ga usah sekalian.”

Tidak membicarakan salah satu pihak saja. Pasti selalu terbesit kata-kata seperti itu. Hanya saja ada yang diungkapkan, ada juga yang tidak.

Lelah jika selalu memprotes kekurangan pasangan. Ingat saja hal-hal yang membuatmu jatuh cinta padanya. Hal-hal baik tentangnya, sekaligus yang jelek tapi justru membuatmu suka padanya.

Jika dia memiliki banyak hal baik, kenapa masih harus mempermasalahkan kekurangannya yang itu-itu saja?

Terus menerus berjibaku dengan sebuah dosa, bukan sebuah kesalahan yang telalu tampak, tapi itu adalah sebuah dosa. Dosa bagi diri kita sendiri. Yang berdampak pada diri sendiri pula. Terlalu menikmatinya, hingga tdak tahu batasan. Keep living on it, until we realize that we’re too far away.

Lagi ngomongin apaan sih?

Ga usah serius-serius amat yah! Saya lagi ngomongin berat badan yang pengennya-turun-tapi-ga-tau-kenapa-malah-tambah-naik.

Secara berkala, nimbang berat badan. Tiap liat angkanya, selalu shocked dan punya motivasi (tidak terlalu kuat) untuk diet dan olahraga. Tapi apa yang terjadi? Ketika kembali ke depan layar monitor, semua motivasi itu musnah terbawa angin. Kemudian di lain waktu, nimbang berat badan lagi, dan begitu lagi. Hingga akhirnya tersadar, “Anjrit gue gendut banget! How come??!!”

Enjoying the sins.

Ketika mencintai seseorang dengan cara yang salah. Terkadang sadar itu salah. Tapi selalu kembali dan melakukan hal yang sama. Hingga akhirnya terlalu jauh, dan kehilangan kendali.

Ketika temenan sama orang yang salah, di lingkungan yang salah pula. Meskipun ada pemikiran, “kalo mama tau, mama pasti marah banget,” tapi tetep aja hidup di lingkaran itu. Bahkan sekalipun ada pemikiran, “kalo mama tau, mama pasti sedih,” tetep aja ga bisa ninggalin semuanya karena sudah terlalu nyaman. Hingga akhirnya terlalu jauh, dan kehilangan kendali.

Bisa apa?

Seperti naik kereta, dengan tujuan yang salah. Begitu udah jauh, kita baru sadar bahwa ini bukan jalan yang jadi tujuan kita di awal. Harus kembali ke stasiun sebelumnya, dan mulai perjalanan lagi dari awal. Memeriksa semuanya dengan teliti, supaya ga salah arah lagi.

Harus mencari titik dimana kita bisa mengubah haluan, dan berjalan dengan semestinya.

Tiap orang punya ceritanya sendiri, ga usah dibandingin sama orang lain. Gimanapun prosesnya, semuanya tetep kerasa manis.
Buah pikiran di sela-sela obrolan pacaran-lama-tapi-ga-dinikahin-melulu sama temen kemaren

"Hih, alasannya klasik banget…"

Pernah denger kalimat itu kan?

Manusia melakukan sesuatu pasti ada motivasinya. Dan ketika mereka ga ingin orang lain tau motivasi yang sesungguhnya, keluarlah alasan-alasan yang seperti itu. Klasik.

Masa-masanya sekolah nih misalnya. Ada cowo nembak, dan kamu ga bisa nerima karena emang ga suka, atau udah pacaran terus pengen putus karena udah bosen, pasti si cowo nanya, kenapa? Karena ga ingin nyakitin perasaannya, maka keluarlah alasan ini:

"Bentar lagi ujian, ingin konsen belajar dulu aja."

Pas kerja, mau resign. Mencoba nyari alasan yang kuat supaya bisa resignnya ga dilama-lamain.

"Mau sekolah lagi."

Klasik? Yaaa, kalo emang bener karena mau sekolah lagi ya mau gimana? Tapi kebanyakan, orang-orang pake alasan ini untuk resign. Padahal mah emang udah ga betah aja dan pengen pindah kerja.

Yang sering nih, artis-artis kalo nikah terus cerai.

"Udah ga cocok."

Heh, dimana-mana orang nikah emang ga cocok kali! Namanya lahir dari orang tua yang beda, digedein di lingkungan yang beda, pasti ga akan cocok. Pasti beda semuanya, pola pikir, karakter, ekonomi, dan lain sebagainya. Karena nikah itu bukan karena cocok, tapi dicocok-cocokin. Jadi kalo ada orang cerai pake alasan ini, grrrr….

Lantas, kenapa alasan klasik ini masih terdengar? Kenapa orang terlalu segan untuk bilang yang sebenernya?

Akhir kata, ini kata-kata bijak dari mas produser:

"Be brave. Say what needs to be said. If you care about someone, tell them. Hearts are sometimes broken by the words we leave unspoken. Bitter end is better than everlasting sweet lie."

Tiba-tiba kepikiran ini dan ingin nulis aja.

Kalimat pertama itu ga usah disebutn sih sebenernya, toh apa yang dipost disini juga berawal dari pikiran, terus dituangin disini. Hahaha. Silly -___-

Jadi gini, untuk teman-teman yang masih berkeluh kesah membanggakan dan memamerkan kejombloannya dan kegalauannya, saya punya satu pertanyaan: Kenapa?

Kenapa berkeluh kesah karena liat temen yang seumuran udah pada nikah, udah pada punya anak, dan lain sebagainya?

Kita terlahir dengan cerita kita sendiri yang ga bisa disamain dengan orang lain. Termasuk masalah cinta dan pernikahan. Biarin aja orang lain udah nikah, udah hamil, udah punya anak. Kita juga akan seperti itu nantinya, di saat yang tepat, dengan kisah yang pasti kamu banggain dan ingin diceritain ke orang.

Setiap orang punya cerita dan pencapaiannya masing-masing. Misalnya, di umur 23, temen-temen kamu udah pada nikah. Itu pencapaian mereka. Pencapaian kamu? Di umur kamu yang 23, kamu juga udah membuat pencapaian yang lain kan? Sebuah pencapaian yang teman-temanmu tidak dapatkan.

Udah gitu aja.

Gimana rasanya kerja bareng pacar? Biasa aja. Seneng, kalo pas saya tugas IMS, dia juga kebagian tugas. Meskipun saya di control room dan dia di floor, tapi seengganya saya bisa ngeliat apa yang dia liat. Cek jadwalnya, kebagian camera berapa, dan dari sinilah, saya berasa jadi dia. Ngeliat apa yang dia liat. Dan pas foto ini diambil, dia lagi kebagian cam 1, otomatis ngambilnya Shahnaz terooos.. hahahaha..

Ga apa-apa kepisah pas on air, toh udahnya bisa ketemu lagi, sarapan bareng, pulang bareng :)

Tetaplah seperti itu

Aku, kamu, kita

Ga ngerti maunya apa :-/

Nyari referensi nikah sambil bikin naskah, direkomendasiin video ini sama si calon suami. Aaaaand it’s sooooooo beautiful (tadinya mau bilang fuckin awesome, tapi ga enak karena ini momennya pernikahan).

Mulai dari cara ambil gambar, wedding venue, dekor, semuanya bagus, semuanya cantik, semuanya bikin bahagia. Hahahaha… Mau bikin kaya gini, plis plis plis!

Setiap orang punya masa lalunya sendiri. Disimpan dengan baik, atau justru membuangnya adalah pilihan.

Tulisan ini untuk seorang sahabat semasa SMA, Risti Yulianti. Entahlah, tiba-tiba saja ingin mencari tahu tentangnya. Baik-baik saja kah? Masih dengan si laki-laki itukah? Atau bagaimana?

Ketika tahu apa yang sudah dialaminya, bahagianya bukan main. Dia telah menikah, dengan seorang pria yang dipertemukan Tuhan dengannya. Ya, 27 Oktober 2013 dia menikah.

Lantas? Bagaimana seorang sahabat bisa tidak tahu hari pernikahannya?

Saat itu, kami masih muda, masih sangat muda. Memilih untuk perang dingin karena sesuatu yang pada hari ini sama sekali tidak berarti untuk kami berdua. Mencoba untuk berdamai sesekali, namun ego dan kebodohan membuat kami jauh. Semakin jauh.

Dan.. hey, aku bahagia kamu tidak lagi dengan dia yang ku tahu, seringkali membuat kamu bersedih dari pada membahagiakan kamu. Dan, kamu harus tahu juga, aku tidak lagi dengan si laki-laki itu, seseorang yang membuat kita bermusuhan. Hahaha…

Mari kita berdamai, kembali berteman.. Karena aku rindu kamu, Neneeeekkk!!! Hahaahha~

My dear, you are so beatiful.