Sexy music is here.

All I can imagine is us. In the crowd, with the time lapse things around us. Gonna make the story board for our prewedding video, anyway.

Ini semacam surat cinta. Untuk dia yang diciptakan Tuhan untukku.

Namanya Ilham Fauzi.
Matanya bulat, alisnya tebal. Giginya kecil-kecil dan rapi, berderet hiasi senyum nyengirnya. Wajahnya mirip ibunya, mirip ayahnya juga. Membuktikan kalau dia memang anak dari orang tua yang membesarkannya selama ini. Hehe.

Rambutnya halus, sangat lurus. Cepat sekali tumbuhnya, membuat ibuku sering mengomelinya untuk segera mencukur rambut gondrongnya.

Perawakannya kurus. Kecil dibandingkan kebanyakan lelaki. Tapi entah kenapa, perawakan kecilnya tetap lebih lebar dan besar dari pada badan gemukku. Anatomi perempuan dan lelaki memang beda, ya.

Ilham Fauzi.

Tidak tahu kenapa ingin mengingatnya saja malam ini.

Mungkin dia sudah tertidur. Lelap bermimpi bertemu jerapah dan zebra di afrika.

Atau mungkin dia juga masih terjaga. Melamunkan bertemu jerapah dan zebra di afrika.

Ya.

Namanya Ilham Fauzi.
Kejutan dari Tuhan untukku.

Sebelum nulis ini, saya baca blog temen. Udah lama sih bacanya, tapi bikin kepikiran.

Pernah gak sih kamu belajar, mempelajari sesuatu karena ingin? Bukan tuntutan sekolah, atau kerjaan. Tapi bener-bener belajar, riset, cari tau karena ingin. Ingin tau karena penasaran. Penasaran yang tidak didiamkan begitu saja. Penasaran yang dilayani sepenuh hati dengan membaca banyak hal tentang itu. Riset mendalam sampe gemes ingin tau semuanya.

Saya pribadi, kerjaan saya nuntut saya untuk terus-terusan belajar. Selalu ngeliput sesuatu yang selalu beda, jadinya harus selalu belajar dulu, banyak baca dulu, riset dulu. Tuntutan? Iya.

Tapi di samping itu, masih suka ada beberapa hal yang bikin penasaran dan akhirnya cari tau sendiri. Bukan karena tuntutan kerjaan, tapi tuntutan diri sendiri yang kepo aja. Setelah tau, ya sudah. Bisa tersenyum atau bahkan tertawa sendiri. Biasanya bukan hal yang penting atau besar untuk diketahui. Hanya hal-hal konyol yang pastinya gak penting untuk orang lain.

Haha. 

Belajarlah. Kita dikasih umur memang untuk belajar toh? Belajarlah karena ingin. Rasanya pasti lebih menyenangkan. 

Buka socmed ini, temen-temen upload foto bayinya yang baru lahir, ada juga yang udah ngegemesin banget dipakein baju ini itu, ada juga yang udah launching bayinya ke mall atau tempat-tempat lain.

Buka socmed itu, banyak berita temen-temen yang nikah, atau akan nikah, atau sedang menyiapkan pernikahan.

Rasanya ingin cepat-cepat tahun depan! Ah, tapi ga ingin cepet-cepet juga sih, karena hingga saat ini belum siapin apa-apa. Pekerjaan dan jarak (Jakarta-Bandung) yang jadi kendala. Baru bisa sekedar telepon-teleponan sama mama ngomongin konsep.

Dan lagi pula, yang harus disiapkan dalam pernikahan tidak cuma materi toh? Masih ada banyak hal lain yang jauh lebih besar untuk disiapkan. Haha! Rasanya seperti akan menghadapi ujian. UN lah kalo boleh dianalogikan…. rasanya menganggap diri sudah siap dan ingin cepet-cepet bantai soal-soal itu, atau bahkan ingin rasanya dikembalikan ke 3 tahun sebelumnya—tahun dimana saya bisa bersenang-senang dengan santai, tapi sekaligus menyiapkan diri untuk ujian itu.

Haaaaaaa…. analogi yang aneh. Tapi gak aneh juga sih. Kebahagiaan juga sebuah ujian, sama seperti UN. Cara kita menyikapinya akan dinilai oleh Tuhan. Tapi gimana ya? I’m waaaay too excited, yet frightened. Padahal masih lama juga sih. Rasanya ga ingin mikirin itu, tapi kepikiran terus. Hahahaha, silly!

brickme:

As some of you might already have guessed, I’m a fan of Japanese girl idols. One of the many, many idol groups in existence today in Japan is NMB48, a Osaka-based spin-off group of the (in)famous AKB48. NMB has a weekly show that’s surprisingly entertaining as well as educational called NMB to…

Inilah perjalanan paling romantis dalam hidup, setidaknya hingga saat ini.

Menghitung ribuan detik menuju hari itu, sendirian, dengan beberapa pekerjaan sebagai reporter. Rasanya lama, lelah, jenuh, menyebalkan.

Hingga akhirnya, datanglah hari jumat. Kembali mengemban tugas liputan, terkesan terburu-buru, tapi biarlah. Semua hanya untuk menemui momen itu—-bertemu ibu, ayah, keluarga.. dan kamu.

Liputan Mix Diner and Florist

Besoknya langsung ditayangin :P

Duduklah diri dalam salah satu kursi di travel itu. Melihat setiap papan kilometer yang ada, menghitung angka yang tertera… KM 88… KM 97… KM 110… Hingga akhirnya melewati papan bertuliskan ‘Bandung 500 m’

Wow.

Pulang ke Bandung rasanya tidak pernah seperti ini.

Begitu sampai, kamu sudah menunggu. Memberi senyum mengejekku yang jelas terlihat merindukannya. Ah, padahal dia juga rindu, atau mungkin lebih rindu!

Lalu pulang, bertemu ibu, ayah yang kemudian memelukku.. hehe.. rasanya sudah lama tidak dipeluk ayah seperti ini.

Istirahat, untuk hari esok.

Memaksakan kencan di siang hari, padahal malamnya kita akan bertemu lagi. Mencari makan hingga ke negeri Cina, kalau boleh kita bilang. Setidaknya kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam mengelilingi kota Bandung untuk mencari makan—kencan, dan membicarakan banyak hal. Haha!

Sore, pulang ke rumah masing-masing. Ibu pun sudah menelepon untuk ikut bantu beres-beres di rumah.

Sesampainya di rumah, karpet sudah digelar di mana-mana, makanan sudah tersaji. Tinggal tugasku mengangkut berlusin-lusin piring, memotong kue, dan menatanya di piring.

Aga, Onay, Uti datang, membawa keceriaan (ceritanya), tapi yang ada mereka membuat rusuh. Haha, seru dan menyenangkan.

Dan inilah persiapannya…

Dari kubu Antapani

Dari kubu Kiara Condong…

Selanjutnya apa lagi? Kepala mulai sakit, perut rasanya kedutan (kalo ini mungkin karena pake bustier), dan kesemutan (karena duduknya gak bisa sila)

Jubir mulai bicara, pakai bahasa sunda karena dua keluarga sama-sama orang sunda.

Acara inti sudah selesai, saatnya santai, makan-makan, foto-foto.

Dengan ayah, sang pria terhebat.

Dengan kamu, man in suit, yang kelak akan menjagaku seperti ayah.

Terima kasih untuk semuanya yang sudah hadir, mau direpotin, dan lain sebagainya. Makasih untuk dea’s crazy aunties yang mau diriweuhin ngedandanin, ngebimbing masang softlens, dan lain sebagainya. Makasih untuk si calon manten Deya dan Sony yang udah ngedandanin Ilham jadi begitu. Haha! Makasih untuk keponakan dan sepupu yang udah ngeramein. Makasih untuk ibu-ibu ketje yang udah nyiapin makanan enyak. Makasih buat aa yang udah riweuh ngatur kucing biar ga ngacak-ngacak acara. Makasih buat mba ninu yang ikut riweuh juga. Makasih buat keluarga besarnya Ilham yang udah pada dateng, ada Ria juga ternyata dateng.. Hoho, seneeng.. Makasih untuk mama papa tera dan ilham yang ngerestuin kita berdua.

Dan… berakhirlah malam itu… saatnya kembali ke Jakarta untuk mengejar mimpi….

bersama calon suami.

I love this song, and am impressed by its music video. 

A dance expresses things: love, anger, happiness, patheticalness, everything. 

Rasanya menggelikan, lucu, gemas, ingin tertawa dan lompat-lompat.

Sudah lama rasanya tidak seperti ini.

Rasa senang yang lucu, datangnya bertubi-tubi.

Terima kasih, Tuhan.

Halo.
Aku berbicara padamu. Ya, kamu.
Dan kalian yang sedang mencintai seseorang.

Menjalani hubungan yang cukup lama tidak mudah ya? Beberapa hal buruk tentangnya mulai tampak. Selalu membuat kesal dan menjadi bahan perdebatan. Ingin membuatnya sedikit berubah jadi lebih baik, tapi selalu berujung pada diam dengan kalimat penutup, “gue emang gini. Kalo mau nerima ya silakan, kalo ngga mending ga usah sekalian.”

Tidak membicarakan salah satu pihak saja. Pasti selalu terbesit kata-kata seperti itu. Hanya saja ada yang diungkapkan, ada juga yang tidak.

Lelah jika selalu memprotes kekurangan pasangan. Ingat saja hal-hal yang membuatmu jatuh cinta padanya. Hal-hal baik tentangnya, sekaligus yang jelek tapi justru membuatmu suka padanya.

Jika dia memiliki banyak hal baik, kenapa masih harus mempermasalahkan kekurangannya yang itu-itu saja?

Terus menerus berjibaku dengan sebuah dosa, bukan sebuah kesalahan yang telalu tampak, tapi itu adalah sebuah dosa. Dosa bagi diri kita sendiri. Yang berdampak pada diri sendiri pula. Terlalu menikmatinya, hingga tdak tahu batasan. Keep living on it, until we realize that we’re too far away.

Lagi ngomongin apaan sih?

Ga usah serius-serius amat yah! Saya lagi ngomongin berat badan yang pengennya-turun-tapi-ga-tau-kenapa-malah-tambah-naik.

Secara berkala, nimbang berat badan. Tiap liat angkanya, selalu shocked dan punya motivasi (tidak terlalu kuat) untuk diet dan olahraga. Tapi apa yang terjadi? Ketika kembali ke depan layar monitor, semua motivasi itu musnah terbawa angin. Kemudian di lain waktu, nimbang berat badan lagi, dan begitu lagi. Hingga akhirnya tersadar, “Anjrit gue gendut banget! How come??!!”

Enjoying the sins.

Ketika mencintai seseorang dengan cara yang salah. Terkadang sadar itu salah. Tapi selalu kembali dan melakukan hal yang sama. Hingga akhirnya terlalu jauh, dan kehilangan kendali.

Ketika temenan sama orang yang salah, di lingkungan yang salah pula. Meskipun ada pemikiran, “kalo mama tau, mama pasti marah banget,” tapi tetep aja hidup di lingkaran itu. Bahkan sekalipun ada pemikiran, “kalo mama tau, mama pasti sedih,” tetep aja ga bisa ninggalin semuanya karena sudah terlalu nyaman. Hingga akhirnya terlalu jauh, dan kehilangan kendali.

Bisa apa?

Seperti naik kereta, dengan tujuan yang salah. Begitu udah jauh, kita baru sadar bahwa ini bukan jalan yang jadi tujuan kita di awal. Harus kembali ke stasiun sebelumnya, dan mulai perjalanan lagi dari awal. Memeriksa semuanya dengan teliti, supaya ga salah arah lagi.

Harus mencari titik dimana kita bisa mengubah haluan, dan berjalan dengan semestinya.